Search

Santri di Persimpangan Tradisi dan Inovasi

OPINI - Setiap 1 November, kita memperingati Hari Inovasi Indonesia. Momentum ini mengajak kita merenungkan sejauh mana bangsa ini mampu melahirkan gagasan baru, menciptakan terobosan, dan menjawab tantangan masa depan. Namun, di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, ada pertanyaan yang layak kita ajukan kepada dunia pesantren: haruskah santri mengejar ketertinggalan zaman?

Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan pesantren, apalagi mempertentangkan tradisi dengan kemajuan. Justru sebaliknya, kita ingin memastikan bahwa pesantren tetap menjadi kekuatan penting dalam perjalanan bangsa. Santri tidak boleh hanya menjadi penonton ketika dunia bergerak maju. Namun, mereka juga tidak boleh kehilangan jati diri hanya karena ingin mengikuti perubahan.

Tradisi Bukan Penghalang Kemajuan

Pesantren memiliki warisan keilmuan yang panjang. Di dalamnya, santri belajar membaca kitab kuning, menghafal, berdiskusi, bermusyawarah, dan membangun kedisiplinan. Mereka juga belajar menghormati guru, menjaga adab, hidup sederhana, serta mengutamakan kepentingan bersama.

Semua itu merupakan modal berharga untuk menghadapi masa depan. Karena itu, keliru jika pesantren dipandang hanya sebagai lembaga pendidikan yang sibuk dengan masa lalu dan kurang peduli terhadap masa depan.

Tradisi pesantren sesungguhnya menyimpan semangat pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk menjawab persoalan kontemporer. Dalam tradisi bahtsul masail, misalnya, santri dilatih mengidentifikasi masalah, menelaah pendapat ulama, memahami dalil, dan merumuskan jawaban. Proses ini mengajarkan bahwa persoalan harus dipahami sebelum keputusan diambil.

Bukankah semangat semacam itu juga diperlukan dalam dunia inovasi? Sebuah terobosan tidak lahir hanya dari keinginan untuk tampil berbeda, tetapi dari kemampuan membaca masalah dan menemukan jalan keluar.

Dengan demikian, tradisi bukanlah beban yang menghambat langkah. Tradisi dapat menjadi akar yang menguatkan pohon agar tumbuh semakin tinggi. Persoalannya bukan apakah santri harus meninggalkan tradisi, melainkan bagaimana tradisi keilmuan pesantren dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan zaman.

Mengakui Ketertinggalan, Berani Melakukan Perubahan

Meski demikian, kita tidak boleh terjebak dalam kebanggaan terhadap masa lalu. Pesantren memiliki sejarah besar, tetapi sejarah besar tidak dengan sendirinya menjamin kesiapan menghadapi masa depan.

Kita harus jujur mengakui bahwa akses terhadap teknologi, literasi digital, penguasaan bahasa asing, sains, dan keterampilan profesional belum merata di seluruh lingkungan pesantren. Ada pesantren yang telah berkembang dengan fasilitas modern, tetapi ada pula yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar pendidikan.

Kesenjangan ini perlu menjadi perhatian bersama.

Santri hidup di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), digitalisasi ekonomi, perubahan dunia kerja, dan arus informasi yang nyaris tanpa batas. Perubahan tersebut bukan sesuatu yang bisa dihentikan hanya dengan menghindarinya.
Jika santri tidak dibekali kemampuan untuk memahami dan memanfaatkan perkembangan teknologi, mereka berisiko kehilangan kesempatan untuk berkontribusi lebih luas bagi masyarakat.

Karena itu, mengakui adanya ketertinggalan bukan berarti merendahkan pesantren. Sebaliknya, kejujuran dalam melihat kekurangan merupakan langkah awal menuju perbaikan.

Kita tidak cukup mengatakan bahwa santri memiliki akhlak yang baik, sementara kesempatan mereka untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan modern diabaikan. Pendidikan akhlak dan penguasaan teknologi seharusnya saling menguatkan, bukan dipertentangkan.

Jangan Hanya Menjadi Konsumen Inovasi

Ada satu hal yang perlu menjadi perhatian serius: santri jangan sampai hanya menjadi pengguna teknologi yang diciptakan orang lain.

Santri tentu boleh menikmati kemudahan telepon pintar, media sosial, dan berbagai aplikasi digital. Namun, pendidikan mereka harus mendorong lebih jauh daripada sekadar menggunakan produk yang tersedia.

Mengapa santri tidak didorong menciptakan media pembelajaran Al-Qur'an, mengembangkan perpustakaan kitab digital, membangun aplikasi pelayanan pesantren, atau menghasilkan inovasi untuk membantu perekonomian masyarakat desa?

Santri yang memiliki minat di bidang pertanian, misalnya, dapat mengembangkan gagasan untuk meningkatkan produktivitas petani. Mereka yang tertarik pada dunia usaha dapat membangun kewirausahaan berbasis potensi lokal. Sementara itu, santri yang mendalami ilmu agama dapat berkontribusi dalam pengembangan literasi Islam yang bertanggung jawab di ruang digital.

Tentu, tidak semua santri harus menjadi ahli teknologi atau pengusaha. Setiap orang memiliki bakat, minat, dan jalan pengabdian masing-masing. Yang penting, pesantren memberi ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan keberanian untuk menghasilkan karya.
Di sinilah inovasi menemukan maknanya yang lebih luas. Inovasi bukan semata-mata menciptakan perangkat canggih atau aplikasi baru. Inovasi juga berarti menemukan cara yang lebih baik untuk mendidik, melayani masyarakat, menyelesaikan persoalan, dan meningkatkan kesejahteraan.

Santri tidak harus selalu menjadi orang pertama yang menemukan teknologi baru. Namun, mereka harus memiliki kesempatan untuk ikut menciptakan solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.

Teknologi Memerlukan Akhlak

Di tengah perkembangan teknologi, pesantren juga memiliki tanggung jawab yang tidak kalah penting: menjaga agar kemajuan tidak kehilangan arah.

Kecerdasan buatan dapat membantu manusia menghasilkan tulisan, mengolah data, dan menyelesaikan pekerjaan dalam waktu singkat. Namun, kecanggihan teknologi tidak otomatis melahirkan kejujuran, kebijaksanaan, atau tanggung jawab.

Teknologi yang sama dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memproduksi hoaks, memanipulasi informasi, dan merugikan orang lain.

Karena itu, santri perlu memahami teknologi sekaligus memiliki kemampuan menilai penggunaannya secara etis. Mereka harus mampu memanfaatkan AI tanpa kehilangan kejujuran intelektual, menggunakan media sosial tanpa ikut menyebarkan kebencian, serta menguasai ilmu tanpa merasa paling benar.

Pesantren tidak cukup hanya menyiapkan santri yang mampu mengikuti perkembangan zaman. Pesantren juga perlu ikut membentuk arah perkembangan zaman melalui nilai-nilai keadilan, tanggung jawab, kemanusiaan, dan kemaslahatan.

Tentu, tugas menjaga etika teknologi bukan hanya milik santri. Namun, pendidikan agama dan akhlak yang menjadi kekuatan pesantren dapat memberikan kontribusi penting bagi masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi.

Pesantren Harus Berakar sekaligus Bergerak

Perubahan tidak mungkin dibebankan hanya kepada santri. Pengasuh pesantren, para guru, pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha perlu mengambil bagian.
Pesantren perlu memperluas ruang pembelajaran sains, teknologi, bahasa, dan kewirausahaan tanpa mengorbankan kedalaman pendidikan agama. Pemerintah perlu memperhatikan pemerataan infrastruktur digital dan akses pendidikan berkualitas, terutama bagi pesantren yang memiliki keterbatasan sumber daya.

Perguruan tinggi dan dunia usaha juga dapat membuka ruang kolaborasi agar gagasan santri tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkembang menjadi karya yang memberikan manfaat nyata.

Hari Inovasi Indonesia seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang kita. Pesantren tidak perlu merasa rendah diri di hadapan kemajuan teknologi. Sebaliknya, pesantren perlu percaya diri sekaligus berani mengevaluasi diri.

Sebab, menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan. Sebagaimana terbuka terhadap perubahan juga tidak berarti harus membuang tradisi.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang santri dan ketertinggalan zaman harus dijawab dengan keberanian untuk berbenah. Santri perlu mengejar ilmu pengetahuan, menguasai teknologi, dan memperluas keterampilan. Namun, semua itu harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak dan tanggung jawab sosial.

Santri tidak boleh tertinggal oleh zaman, tetapi juga tidak boleh kehilangan arah karena mengejar zaman. Masa depan bukan hanya milik mereka yang paling cepat berinovasi, melainkan juga mereka yang mampu memastikan bahwa inovasi membawa kemaslahatan bagi manusia. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb